Jumlah temuan baru penderita kasus HIV/AIDS di Kota Ternate alami penurunan di sepanjang tahun 2025 yakni 184 kasus baru yang ditemukan di berbagai fasilitas kesehatan di wilayah itu.
Ternate, Pijarpena.id
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ternate mencatat jumlah kasus HIV/AIDS yang terdata sepanjang tahun 2025 mencapai 184 orang.
Hal itu berdasarkan rekapitulasi layanan kesehatan di 10 Puskesmas dan satu rumah sakit di kota tersebut.
Dari data yang dihimpun, RSUD Chasan Boesoirie menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah kasus tertinggi yakni sebanyak 78. Sementara kasus lain turut tersebar di sejumlah Puskesmas dengan jumlah bervariasi.
Terdapat jumlah dua digit kasus di empat Puskesmas dan jumlah sebanyak satu digit yang ditemukan di enam Puskesmas.
Puskesmas dengan jumlah kasus relatif tinggi antara lain Puskesmas Kalumpang sebanyak 27 orang, 26 orang di Puskesmas Kalumata, Puskesmas Gambesi dan Puskesmas Siko masing-masing 17 orang.
Adapun jumlah yang lebih kecil yang tercatat yakni enam di Puskesmas Kota, lima di Puskesmas Jambula, tiga di Puskesmas Mayau, dua di Puskesmas Sulamadaha dan Puskesmas Bahari Berkesan serta satu di Puskesmas Moti.
Angka 178 ini jauh lebih sedikit atau menurun jika dibandingkan dengan tahun 2024 dimana ditemukan sebanyak 224 kasus, dan lebih banyak dari tahun 2023 (107).
Bagian Program HIV/AIDS Dinas Kesehatan Kota Ternate, Hamida SKM MKes mengatakan, sebaran kasus ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
“Data ini menunjukkan bahwa penanganan HIV/AIDS tidak bisa hanya dilakukan di satu fasilitas kesehatan saja tetapi harus melibatkan seluruh Puskesmas dan rumah sakit termasuk peran aktif masyarakat,” kata Hamida pada Pijarpena.id, Selasa (03/02/2025).
Hamida menjelaskan, Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari skrining dan pemeriksaan HIV secara rutin, pendampingan pasien, hingga pemberian terapi antiretroviral (ARV) bagi penderita yang telah terdiagnosis.
“Pasien yang terdeteksi positif HIV langsung kami arahkan untuk mendapatkan terapi ARV secara berkelanjutan. Pengobatan ini bertujuan menekan jumlah virus agar penderita tetap sehat dan tidak menularkan ke orang lain,” jelasnya.
Selain pengobatan, Dinkes Ternate juga gencar melakukan edukasi dan sosialisasi kepada kelompok berisiko serta masyarakat umum untuk mencegah penularan HIV/AIDS.
“Kami terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup sehat, penggunaan alat pelindung diri saat berhubungan seksual serta tidak berbagi jarum suntik. Edukasi ini penting untuk memutus mata rantai penularan,” tambah Hamida.
Ia juga menghimbau masyarakat agar tidak memberikan stigma atau diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“ODHA harus didukung bukan dijauhi. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan, mereka bisa menjalani pengobatan dengan baik dan hidup produktif,” lugasnya.
Dinas Kesehatan Kota Ternate berharap, melalui penguatan layanan kesehatan, edukasi berkelanjutan, serta keterlibatan aktif masyarakat, angka kasus HIV/AIDS dapat ditekan dan kualitas hidup para penderita terus meningkat.
Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh Pijarpena.id dari Dinkes Provinsi Malut, ditemukan sebanyak 102 orang yang dinyatakan reaktif HIV sepanjang tahun 2025.
Data itu berdasarkan hasil Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) yang dilakukan pada 18.581 calon pengantin di seluruh wilayah Maluku Utara. (rud/fm)
