cengkeh
Cengkeh yang telah kering. (Foto: canva.com)

Produksi Cengkeh (terus) Merosot, ini Beberapa Faktor Penyebabnya

Ternate, Pijarpena.id

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara (Malut) mencatat sektor perkebunan masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah kepulauan.

Namun, dalam satu dekade terakhir, komoditas cengkeh menunjukkan tren penurunan produktivitas yang dipengaruhi faktor alam, usia tanaman, hingga pergeseran minat tenaga kerja ke sektor industri.

Berdasarkan data BPS Malut, total produksi tiga komoditas utama sektor perkebunan di Provinsi Maluku Utara sepanjang tahun 2023 mencapai ratusan ribu ton.

Kelapa masih menjadi komoditas paling dominan dengan total 200.086 ton, disusul pala sebanyak 8.338 ton dan sementara cengkeh 4.656 ton.

Baca pula:  Berdarah-darah, Bintang Tim Futsal Malut di PON 2016 Bawa Indonesia ke Final AFC 2026

Tim Produksi BPS Malut, Daniel Madi menjelaskan, secara populasi tanaman, komoditas perkebunan di Maluku Utara masih didominasi oleh kelapa, disusul pala dan kemudian cengkeh.

“Kalau kita lihat data sensus pertanian, secara populasi pohon memang kelapa yang terbanyak. Kemudian pala dan cengkeh itu urutan ketiga,” ujar Daniel pada Pijarpena.id.

Daniel menerangkan, salah satu penyebab menurunnya produksi cengkeh adalah sifat tanaman yang musiman. Berbeda dengan pala yang dapat berbuah sepanjang tahun, cengkeh hanya berproduksi pada musim tertentu dan bahkan bisa tidak berbuah dalam satu tahun penuh.

“Cengkeh itu tanaman musiman. Dalam satu tahun bisa tidak berbuah, sementara pala itu berbuah terus. Itu sebabnya petani tidak hanya mengandalkan cengkeh,” katanya.

Baca pula:  Pemugaran Rampung, (masih) Ada Peluang Rekonstruksi Benteng Kastela

Selain faktor musiman, peristiwa alam juga berdampak signifikan terhadap produksi cengkeh, khususnya di Kota Ternate. Letusan Gunung Gamalama pada 2013 disebut menjadi salah satu titik balik penurunan produksi.

“Dulu sekitar tahun 2003 sampai 2013, Ternate itu banyak cengkeh. Tapi waktu gunung meletus 2013, banyak pohon yang kering dan mati. Dari situ mulai habis di Ternate,” ungkap Daniel.

Akibatnya, petani membutuhkan waktu lama untuk menanam kembali. Sementara kebutuhan ekonomi mendorong mereka beralih ke komoditas lain yang lebih cepat menghasilkan.

“Kalau cengkeh itu kan butuh waktu lama. Sementara pala dan kelapa itu tiap tahun ada hasilnya. Jadi petani beralih bukan karena meninggalkan tapi karena produktivitasnya yang tidak rutin,” tambahnya.

WhatsApp Channel PIJARPENA.ID