Sebanyak 114 satwa liar yang diduga akan diselundupkan lewat rute laut dengan kapal Pelni, berhasil diamankan petugas di Ternate. 14 ekor telah mati, dan sisanya dalam perawatan.
Ternate, Pijarpena.id
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Wilayah 1 Ternate berhasil mengamankan 114 ekor satwa liar Papua di atas kapal Pelni yang berlabuh di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate, Maluku Utara, pada 11 Februari 2025.
Dari 114 ekor satwa liar tersebut, 100 ekor dalam kondisi hidup sementara 14 ekor lainnya ditemukan mati.
Berdasarkan data BKSDA Maluku Wilayah 1 Ternate, satwa yang diamankan terdiri dari berbagai jenis reptil dan mamalia diantaranya 35 ekor kadal minyak Papua (eutropis multifasciata) dengan rincian 31 hidup dan empat mati, serta 46 ekor kadal hutan Papua (hypsilurus magnus) dengan 38 hidup dan delapan mati.
Selain itu, ditemukan satu ekor biawak Maluku (varanus indicus), satu ekor ular Black Albert dan dua ekor ular Gold Adder (leiophyton albertisii), enam ekor ular Green Tree Python (malayopphyton reticulatus), dan satu ekor ular Death Adder (Acanthophis) dimana seluruhnya dalam kondisi hidup.
Petugas juga mengamankan sejumlah satwa endemik khas Papua, yakni tiga ekor kuskus putih (phalanger urinus), dua ekor kuskus coklat (phalanger orientalis) dengan satu hidup dan satu mati.
Lalu satu ekor kuskus totol (spilocuscus maculatus) serta 16 ekor kanguru pohon Nemena (dendrolagus ursinus) dengan 15 hidup dan satu mati.
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Maluku, Sriwayuningsih menjelaskan, satwa-satwa tersebut ditemukan di dalam kamar mandi kapal.
“Posisinya tidak dikurung dalam kandang khusus, tetapi dimasukkan ke dalam karung,” ujarnya pada wartawan, Kamis (12/02/2026).
Sriwahyningsih menyebutkan, kapal tersebut berlayar dengan rute Sorong-Bacan-Ternate-Bitung-Surabaya, dengan dugaan tujuan akhir pengiriman ke Surabaya.
“Perjalanan memakan waktu beberapa hari, sehingga banyak satwa mengalami stres berat,” ungkapnya.
Sriwayuningsih juga mengatakan, langkah teknis yang dilakukan BKSDA Maluku saat ini adalah melakukan rehabilitasi terhadap satwa yang masih hidup.
Untuk satwa dalam kondisi sehat, kata dia, pihaknya rawat dan beri pakan sesuai habitat alaminya. Sementara yang sakit langsung ditangani, termasuk pemberian multivitamin cair dan suntikan medis.
“Ada beberapa kangguru pohon yang langsung mendapat penanganan karena kondisinya lemah,” jelasnya.
Ia menambahkan, satwa endemik Papua seperti kangguru pohon dan kuskus putih tidak dapat dilepasliarkan di Ternate sehingga harus dikembalikan ke habitat aslinya.
“Satwa endemik harus dikembalikan ke habitat aslinya. Nantinya akan ditranslokasi kembali ke Papua setelah proses penyelidikan selesai dan kondisi satwa benar-benar pulih,” katanya.
Baca: Dari Sisi Regulasi di hal [2]
